Jumat, 17 Februari 2017

Keterbatasan Bukan Hambatan


TIDAK banyak orang yang maun menjadi tenaga sosial. Yang setiap harinya harus bergelut denagn permasalahan sosial yang tidak akan pernah habis. namun tidak demikian dengan Totok Muajiarto ini, Sebagai tenaga sosial dia bahkan punya keyakinan bahwa setiap manusia bisa mnadiri. Meski para difabel yang penuh dengan keterbatasan.

Modal Besar adalah Kemauan

Totok kini sudah 48 tahun. Usia-usia dimana seseorang dikatan berada dimasa paling produktif. Karena kedewaan, daya pikir, dan kekuatan seang berada pada kondisi paling tinggi.

Dimasa itulah Totok menekuni dunia sosila. Dia menjadi seorang tenaga kesejahteraan sosial kecamatan (TkSK) Sukodono. Sebagai seorang Tenaga Sosial tentu kegiatan setiap harinya tidak pernah lepas dari aktivitas sosial.

Seperti yang dilakoninya mselama lima hari sepekan llalu Totok menjadi koordinator pelatihan difabel untuk otomotif . Disana para difabel dsilatih sekaligus praktik untuk bisa memperbaiki sepeda motor.

Cara pelatihan itu pun disesuaikan dengan keterbatasan para difabel. Ada yang tuna rungu, tuna daksa, dan ada yang pasca trauma. sehingga satu persatu mendapatkan kesempatan untuk mencoba. Sampai para difabel itu bisa secara standar memperbaiki sepeda motor.

Tidak berhenti sampai pelatihan itu saja. Dalm kegiatannya, paraifabel masih diberikan bantuan peralatan standar perbengkalan. sehingaa para difabel tersebut bisa mengembangkan usaha secara mandiri.

Totok yakin, keterbatasan bukanlah hambatan. Menurutnya keterbatasan bisa dilahkan. Sehingga para difabel masih tetap bisa dilakukan kerja seprti kebanyakan orang lainya. "Disini kami ingin agr para difabel bisa mandiri. Mereka bisa berguna dan bermanfaat," kata laki-laki kelahiran 25 Agustus 1968 ini.

Stigama menhenal difabel tentu saja masih lekat dimasyaraka. Totok tidak menolak stigama tyersebut. hanya saja totok mengatakan, butuh adanya kesempatan untuk diberikan kepada didfabel. Sehingga para difabel benar-nbenar bisa percaya diri.

Totok menyebutkan sudah banyak buktinya. Bahwa difabel juga bisa produktif. Totok sendiri tahu langsung, karena kegiatan yang dilakukannya tersebut rutin dilakukan, "Saya setahun sekali kami terus melakukan pelatihan ini," kata Totok.

Yang paling penting menurutnya adalah agar masyarakat juga memberikan kesempatan yang sama bagi para difabel. Karena meski banyak keterbatasan yang dimiliki oleh difabel namun usaha dan aya belajar  yang dimiliki setiap manusia selalu menjadi modal palimng besar yang dimiliki oleh manusia. "Para difabel pasti bisa mandiri. Tergantung bagaimana mereka mau atau tidak," pungkas Totok.(dt/ras)

Sumber: Jawa Pos Radar Semeru, 09 Juni 2016


Disalin kembali Oleh. (Rs)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar