PEREMPUAN asli Lumajang yang saat ini memiliki tempat tinggal di Bali ini ternyata meiliki tekad kuat dalam usahanya. Meski awalnya hanya untuk coba-coba, produk usahanya kali ini sudah terkenal di berbagai negara.
Mencoba bisnis kerajinan kulit menjadi pilihannya saat itu. Meski sifatnya hanya sampingan, ternyata bisnis ini memberikan banyak keuntungan bagi dirinya.
Meita Yustin, begitu nama perempuan satu ini. Perempuan besar di Jalan A Yani ini sudah 10 tahun menggeluti bisnisnya itu. Mulai dari handbag, jaket, dompet dan pernak pernik lainnya di produksi sendiri. "Produksinya di Bali, karena saya tinggal di sana," katanya.
Sudah Ekspor ke Berbagai Negara
Dia menuturkan, 10 tahun itu bukan waktu yang singkat dalam mengembangkan usahanya itu. Butuh perjuangan keras dan tekad yang kuat agar bisnis kerajinan kulit miliknya itu mampu bersaing di pasaran.Naik turunnya semagat sudah biasa dalam menjalankan bisnis. Namun, yang pasti harus tetap tekun agar usaha yang dijalankan itu tetap barjalan. "Kuncinya sih tekun ya, agar terus berlanjut," ungkapnya.
Perempuan yang lahir di Lumajang pada 7 Mei 1978 ini sudah mengekspor barangnya kebeberapa negara. Di antaranya, Belanda, Jerman, Prancis, Amerika, Australia dan Swiss. "Sementara ke sana dulu, mungkin tahun depan akan nambah lagi," tambahnya kemudian tersenyum.
Meita panggilan akrab perempuan ini bisa memproduksi kerajinan kulit sapi dan domba. Sampai saat ini pun, dia tidak pernah kesulitan untuk mencari bahan baku. Pemasok bahan baku langganannya selalu menyediakan bahan terbaik untuk dia produksi.
Sehingga dirinya hanya memproduksi bahan baku itu untuk di olah lagi menjadi beberapa pernak pernik itu sendiri. "Seperti ini contohnya, desain saya yang buat, kalau orang luar negri biasanya mereka sendiri yang membuat desainnya," ungkap perempuan lulusan SMAN 1 Lumajang.
Saat ini dirinya ,mulai menjajaki pasaran fashion di Lumajang. Meski belum memiliki lokasi tetap, beberapa ressellernya sudah mengenalkan produk kulit kepada masyarakat Lumajang.
Apalagi dia menilai, saat ini Lumanjang sudah menunjukkan kemajuan yang cukup pesat. Hanya saja, Meita kadanga harus memilah mana produk yang cocok untuk masyarakat di Lumajanag. "Tetap saya bedakan, Biasanya orang Lumajang itu kan suka barang bagus, taoi harga terjangkau," ungkapnya.
Maka bahan yang dipilihnyapun juga berbeda dengan barang yang sengaja di pesan oleh pelanggannya di luar negri. "Kita pisahkan antara konsumen menengah keatas," tambahnya.
Dia menyebutkan, jika harga disamakan seperti harga yang dia patok untuk pelanggan dari luar negeri, otomatis jarang laku. Namun, meski lebih murah, dia menjamin produknya sama-sama memiliki kualitas yang sama.
Dengan begitu dia berharap kerajinan lokal ini bisa dikenal oleh masyarakat sendiri. "Sudah terkenal internasional masak tidak dikenak lokal," katanya. Dia berharap, masyarakat bisa mencinta produk lokal.
Sehingga dia menyimpulkan, harus memiliki kretifitas tinggi untuk bisa memasarkan produk lokal di kancah internasional. Namun, alangkah lebih baik jika produknya juga dikenal di negaranya sendiri. (mar/ras)
Sumber : Jawa POs Radar Semeru, 24 Februari 2017
Disalin Kembali Oleh : (Yn)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar