PRESTASINYA dalam dunia pendidikan membuat perempuan yang memiliki nama Anggun Fitriah menjejakkan kakinya di negara Shanghai China. Meski hanya empat bulan, Kesan berada di negara yang memiliki empat musim itu sangat berkesan bagi dirinya.
Perempuan yang beralamatkan di Desa Jatisari, Kecamatan Tempeh ini berkesempatan menjadi salah satu perwakilan dari kampusnya untuk melakukan pertukaran pelajaran. "Saya pernah ke China pada pertukaran mahasiswa atau student exchage disana sekitar empat bulan," katanya.
Tampilkan Budaya Bangsa di China
Anggun panggilan akrabnya ini menuturkan, banyak sekali hal yang menarik di negara China. Mulai dari kebiasaan masyaraklat, sampai kebudayaan masyarakat yang sampai saat ini mereka jaga.Dalam pertukaran pelajar itu, Anggun bersama dengan ke sembilan temennya memiliki kesempatan untuk menampilkan budaya Indonesia. Itu merupakan sebuah kebanggaan bagi dirinya dan teman-temannya. "Walau itu menampilkan tari Kecak dari Bali di hadapan Mahasiswa di China," ungkapnya.
Dia mengungkapkan, China memiliki musim yang sangat berbeda dengan Indonesia. Dan pada kesempatan itu, di China sedang musim dingin. Bahkan pada suhu saat itu hingga minus empat derajat.
Sudah barang tentu jika China sedang musim dingin, salju akan turun dan mengiasi daerah sekitarnya. "Sempat juga bertemu salju pada saat itu, betapa bahagianya dan beruntungnya saya bisa bertemu dan mengetahui salju dengan secara nyata," tuturnya lalu tersenyum.
Selain memiliki empat musim, ternyata di China itu juga memiliki empat nada bahasa. Bahasa Mandarin yang yang biasa mereka pakai itu memiliki nada sendiri-sendiri. Mengucapkan dengan nada yang berbeda akan memiliki makna yang berbeda.
Perempuan yang lahir di Lumajang 8 Maret 1996 ini, ternyata memiliki cerita unik saat berada di sana. Kesasar sudah pasti, mau bertanya pun juga belum banyak memahami bahasa China.
Terpaksa harus menggunakan bahasa isyarat. "Hanya belajar bahasa China dua minggu di sana," ungkapnya. Untung orang yang ditanyakan itu mengerti. Namun, jawaban balasan dari orang itu
hanya dia tafsirkan menggunakn bahasa kalbu."Ketika dijawab, saya dan teman-teman tidak mengerti, ya sudah diterawang saja kira-kira begitu," jelasnya kemudian tertawa.
Selain pengalaman kesan yang dia rasakan adalah orang-orang China yang sangat ramah dengan dirinya. Bahkan dia mengaku mempunyai teman baik asli orang China. "Ada teman sampai saat ini masih berkomunikasi, pokoknya baik-baik deh," ungkapnya.
Perilaku orang China yang selalu berjalan cepat pun dia amati. Terang saja, beberapa hariberada di sana Anggun selalu ngos-ngosan karena belum terbiasa. Kendali demikian bukan malah menyesal tapi ingin lebih lama lagi ada di sana.
Seningga perempuan yang saat ini sedang menjalankan tugas kampusnya di Malang itu sangat ingin kembali ke negara China. "Ingin sih, semoga bisa ke depan bisa kembali ke negara itu lagi," tutup anak perempuan pasanganb Sugianto dan Siti Sumirah ini. (mar/ras)
Sumber : Jawa Pos Radar Semeru, 23 Februari 2017
Disalin Kembali Oleh : (Yn)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar